Kamis, 31 Oktober 2013

Orange by Windry Ramadhina




Penulis | Windry Ramadhina
Penerbit | Gagas Media
Tahun Terbit | 2008
Halaman | 286
ISBN | 9789797802493

"Dikuncinya pintu di belakangnya lalu ia bersandar lemas pada pintu tersebut. Ia seperti dipaksa menyadari kenyataan. Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh dengan kenangan mengenai Rera.

Ah, dirinya kesal setengah mati.

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan. 

Pertanyaannya: apa... dan siapa? "


.....oOo.....


Lagi-lagi saya menyajikan resensi buku lama lagi ya, hehehe...

Buku ini berisi tentang kisah cinta segi empat. Faye yang yang dijodohkan dengan Diyan. Lalu Diyan yang sebenarnya masih terjebak dengan nostalgia mantan pacarnya, Rera. Dan juga ada Zaki yang kebetulan adalah adiknya Diyan yang juga jatuh cinta pada Faye. Pada akhirnya Faye yang sangat mencintai fotografi itu akhirnya tetap menjalani pertunangan dengan Diyan, di penggila kerja. Munculnya Rera tentu saja menimbulkan dilema bagi Diyan. Sedangkan Faye juga bingung saat mengetahui  kalau Zaki jatuh cinta padanya. Terkadang cinta itu datang di saat yang tidak tepat ya. Seperti salah satu kutipan di dalam buku ini nih "Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain".

Buku ini lebih bergenre metro pop. Setting cerita yang disajikan hampir mirip dengan di sinetron-sinetron yang menceritakan tentang pasangan yang awalnya dijodohkan lalu jatuh cinta dan berakhir bahagia. Tetapi tetap saja ada banyak hal menarik juga yang bisa kita dapatkan dari untaian kalimat-kalimat yang disajikan penulis.

Seperti karakter-karakter tokohnya yang kuat. Konflik yang dihadirkan juga bikin kita penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Hati-hati ya ikut terbawa suasana juga saat membaca buku ini. Saya sendiri sempat sebel sekali sama tokoh Diyan. Saat membaca buku ini saya lebih memakai sudut pandangnya Faye. Makanya sempat sebel sama Diyannya, sampai akhirnya saya  juga ikutan jatuh cinta sama Diyan. Pokoknya pas bacanya perasaan saya agak sedikit diobok-obok gitu ceritanya. Baiklah abaikan bagian ini :p

Dari segi cover, seperti biasa saya ini adalah orang sering jatuh cinta sama cover sebuah buku. Menurut saya, covernya lebih menceritakan tentang Faye. Faye yang memang berprofesi sebagai fotografer dan tentang kesukaan Faye terhadap jeruk. Saya juga sangat menyukai bagian dari buku ini yang mengulik tentang fotografinya. Karena menurut saya kamera yang masih menggunakan film itu seksi dan nggak gampang. 

Kekurangan buku ini menurut saya masih banyak yang typo aja. Selebihnya saya cinta mati sama buku ini. Buktinya, pertama kali baca buku ini sebenarnya cuma minjem dari teman. Tapi saya rela nyari terus dimiliki sendiri, eh taunya baru tahun 2012 lalu nemu lagi. Sekarang jadi mudah kan kalo mau baca ulang kapan pun saya mau :)

Mari membaca :)

Rabu, 30 Oktober 2013

By the River Piedra I Sat Down and Wept by Paulo Coelho




Penulis | Paulo  Coelho
Penerbit | Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit | 2005 
Halaman | 224
ISBN | 9792217495





"Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya" 


Begitulah yang semula dipercaya Pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu kembali dengan kekasihnya setelah sebelas tahun terpisah? Waktu menjadikan Pilar wanita yang tegar dan mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama. Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi Sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan.


.....oOo.....



Buku ini bercerita tentang persahabatan seorang wanita dan seorang laki-laki.  Mereka adalah si wanita, Pilar yang sudah lama terpisah dengan sahabatnya, yang tidak disebutkan namanya oleh penulis. Setelah lama mereka tidak pernah berkomunikasi, pada suatu hari Pilar mendapat undangan dari sahabatnya itu untuk menghadiri acara dimana ia akan memberikan ceramah. Ternyata, pertemuan mereka tidak sampai di situ saja. Sahabatnya mengajak Pilar untuk ikut dalam perjalanannya. Sejak itulah mereka berdua dihadapkan dengan pergolakan untuk menahan perasaan yang bernama CINTA. 

Pilar terus berusaha menolak mengaku bahwa ia telah jatuh cinta kepada sahabatnya, sedangkan sahabatnya juga bimbang untuk bertahan dengan cintanya terhadap Pilar atau memilih jalan religi untuk menjadi pastor. 

Selama perjalanan itu banyak hal yang mereka bicarakan. Dari obrolan mereka sepanjang melakukan perjalanan itu, mereka banyak mengorek kenangan-kenangan mereka saat bersama dulu. Kenangan-kenangan itu sangat berpengaruh pada konflik batin yang mereka alami. Pilar juga sering kali berubah pikiran. Terkadang egonya berusaha menepis rasa itu dan memilih untuk kembali melanjutkan apa yang sudah ia lakukan selama ini, tetapi terkadang hati kecilnya juga tidak bisa berbohong kalau ia ingin terus bersama dengan sahabatnya itu. Pertimbangan dan konflik batin itu terus terjadi selama perjalanan Pilar menemani sahabatnya. Selama perjalanan itu juga tidak jarak terjadi mereka saling menyalahkan atas apa yang pernah terjadi di masa lalu. Akhirnya di tepi sungai Piedra lah keputusan itu datang. Keputusan yang tidak kita duga.

Aroma religi sangat kental disajikan di buku ini. Ada kalimat yang saya suka di buku ini, "Tuhan ada dimana-mana, tetapi orang berpikir mereka harus mencari-cari".

Karena jarang baca buku terjemahan rada sulit buat nyerna ceritanya, banyak kata-kata yang rumit. Atau karena om Paulo yang ketinggian ya bahasanya? hehehe... Jujur ini adalah buku Paulo Coelho pertama yang saya baca.  Jadi buat yang ingin melahap buku ini harus siap-siap berhadapan banyak kata-kata yang bikin kita agak berpikir keras nih teman-teman :p

Mari Membaca :)

Selasa, 29 Oktober 2013

Saga no Gabai Bachan by Yoshichi Shimada




Penulis | Yoshichi Shimada
Penerjemah | Indah S. Pratidina
Penerbit | Kansha Book
Tahun terbit | 2011
Halaman | 264
ISBN |  9786029719628

"Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di Saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di Saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.


Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikkan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika Akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara Nenek dan Saga yang dia cintai atau mengejar mimpi-mimpinya.



Diterjemahkan langsung dari Bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina, buku ini akan membuat kita tersenyum, terenyuh, dan mungkin berpikir ulang tentang nilai-nilai kesederhanaan. "



Ceritanya bersetting pada masa pasca Perang Dunia Kedua, lebih tepatnya pasca meledaknya bom Hiroshima. Buku ini bercerita tentang kisah penulis buku ini sendiri, Akhiro. Akihiro memang tinggal di kota Hiroshima bersama ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Tetapi ayah Akihiro meninggal karena terkena radiasi bom Hiroshima.  Karena kesulitan ekonomi dan ibunya harus bekerja di pub, maka ibunya mengirimkan Akihiro kepada neneknya secara diam-diam.

Akihiro dikirim ke kota Saga tempat neneknya, nenek Osano tinggal. Nenek Osano sendiri sebenarnya hanya bekerja sebagai pembersih sekolah di sana dan hidup serba kekurangan. Walau hidup dengan serba kekurangan, nenek Osano tidak pernah merasa kurang, melainkan selalu merasa cukup. 

Awalnya Akihiro sangat kaget ketika datang ke Saga, karena oleh nenek Osano membiasakan Akihiro untuk melakukan semua pekerjaan sendiri, mulai memasak sampai bersih-bersih. Tetapi dari situlah nenek Osano mengajarkan arti kehidupan kepada Akihiro. Nenek Osano juga selalu mengajarkan kepada Akihiro untuk selalu berpikir positif, mencintai lingkungan, belajar hidup hemat dan selalu optimis.

Paling seneng sama prinsip nenek Osano, walau hidup sederhana tetapi nenek Osano selalu mengajarkan Akihiro untuk memilih ceria daripada menjadi muram. Nenek Osano selalu merasa kebahagiaan itu bukan ditentukan oleh uang, melainkan dari hati. 

Dari buku ini kita ditegur untuk tidak mubajir dan selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Ini terlihat dari kebiasaan nenek Osano yang memanfaatkan ranting dan sisa sayuran dari pasar yang dibuang ke sungai yang kemudian  mengalir di depan rumah mereka. Nenek Osano juga selalu berjalan sambil membawa magnet yang diikatkan pada tali yang dapat ditariknya, sehingga dapat mengumpulkan logam-logam yang jika setelah dikumpul banyak bisa dijualnya. Nenek Osano selalu memperhatikan sesuatu yang kadang kita anggap sepele tetapi padahal bisa kita manfaatkan,

Karena  ini merupakan buku terjemahan, ada beberapa kata yang kadang-kadang agak sulit dimengerti. Tapi terkadang juga disisipi candaan ringan dari nenek Osano. Beruntung saya mendapat kesempatan membaca buku ini. Nggak rugi pokoknya. Banyak sekali nilai-nilai moral yang bisa diserap dari buku ini.


Mari membaca :)

Senin, 28 Oktober 2013

Barcelona Te Amo by Kireina Enno



Penulis | Kireina Enno
Penerbit | Bukune
Tahun Terbit | 2013
Halaman | 266
ISBN | 9786022200901


Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah;
ketika waktu mendamba detik-detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin ketika menepis uluran tangan laki-laki itu.

Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap-sayapnya membawa Katya menari
di antara pilar-pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya,
seperti ombak kepada pantai yang menunggu.

Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Placa de Catalunya, tempat merpati bercengkrama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.
"Te amo," pelan ucap Katya.
Akankah dia dengar?

Te amo sempre


.....oOo.....

Buku yang merupakan salah satu rangkaian Bukune tentang 'Setiap Tempat Punya Cerita' ini sesuai dengan judulnya mengangkat Barcelona sebagai setting ceritanya. Saya lagi-lagi jatuh hati sama halaman sampul buku, ilustrasinya menggambarkan salah satu jalan di sudut Barcelona yang indah itu, membuat saya hanyut dan merasa benar-benar berada di Barcelona.

Di awal buku, kita akan disambut dengan prolognya yang bikin kita serba penasaran, siapakah dua tokoh yang diceritakan oleh mbak Enno di situ. Ternyata, tanda tanya besar itu baru terjawab saat hampir mendekati endingnya. 

Alurnya ceritanya mengalir dan tidak membosankan dan penokohannya juga memiliki karakter yang kuat.. Katya dengan sifatnya selalu mengalah, tidak neko-neko dan berbakat di bidang melukis. Sandra yang cantik, sangat percaya diri, egois dan suka memanfaatkan Katya. Evan yang selalu ada di setiap Sandra mengalami masalah. Dan Manuel, seorang kurator yang sering bersikap dingin, sinis dan tidak tertarik pada hubungan dengan wanita.

Katya dan Sandra adalah saudara sepupu. Sejak kedua orang tua Katya, ia diasuh oleh Om Prana, ayah Sandra. Karena itulah Katya sangat merasa bersyukur dan berusaha untuk belajar dengan baik agar bisa menyenangkan hati omnya. Tetapi di samping itu, Sandra selalu merasa ayahnya lebih sayang kepada Katya dan benci karena sering dibanding-bandingkan oleh papanya dengan Katya yang memang selalu menjadi anak yang baik dan tidak suka berulah. Karena itulah akhirnya Sandra merasa berhak untuk meminta Katya untuk melakukan semua yang diinginkannya.

Sedangkan Evan adalah sahabat mereka berdua. Suatu hari Sandra mengungkapkan rasa sukanya kepada Evan, tetapi Evan justru menolak. Sandra sangat kecewa, karena alasan Evan menolaknya adalah karena Evan juga merasa iya menyanyangi Katya. Sedangkan Katya sejak lama memang menyukai Evan, tetapi ia tidak ingin melihat Sandra sedih. Ketika itulah Katya memutuskan untuk menerima tawaran omnya untuk melanjutkan kuliah di Barcelona.

Suatu hari, saat musim semi di Barcelona, Katya tidak sengaja bertabrakan dengan Manuel. Dan tanpa diduga, Manuel adalah seorang kurator yang tertarik pada lukisan Katya yang dipajang di sebuah galeri kecil, tempat Katya bekerja. Manuel pun mengajak Katya dalam sebuah proyek pameran besar, tetapi Katya malah menolaknya.

Nah pada penasaran kan?
Ayo baca sendiri ya lanjutannya...

Deskripsi mbak Enno tentang lokasinya juga jelas, jadinya berasa beneran lagi di Eropa sana kitanya. Ajib nih mbak Enno risetnya, serba detail. Di awal chapternya juga kita disuguhi sama ilustrasi kota Barcelona juga, huaaaa suka sekali kalo ada yang beginian...

Lagi-lagi saya jatuh cinta sama tokoh laki-laki ciptaan mbak Enno, Manuel Estefan (Abe maafkan saya menduakan kamu...). Seperti biasa, cerita ini manis mbak Enno, walau sebenarnya pengennya cerita tentang Katya dan Manuelnya agak dipanjangin lagi. 


Mari Membaca :)


Minggu, 27 Oktober 2013

Aerial by Sitta Karina



Penulis | Sitta Karina
Penerbit | Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit | 2009
Halaman | 332
ISBN |  9789792243116


"Kamu familiar. Bau darahmu familiar."
"Aku sama sekali tidak mengenalmu."
"Kamu tahu siapa aku, putri."

Sadira si Putri Matahari dan Hassya sang Pangeran Kegelapan merupakan musuh bebuyutan dari dua negeri yang saling bertolak belakang; yang satu menjadikan matahari sebagai sumber hidupnya, satu lagi akan terbakar apabila terpapar langsung oleh sinarnya. Awalnya Sadira berpikir klan Kegelapan  adalah sekumpulan monster sampai tanpa sengaja ia diselamatkan oleh Hassya yang berkulit pucat, tampan, dingin, seenaknya sendiri, namun memiliki sorot mata yang jujur.

Menurut ramalan kuno, apabila mereka bersatu maka kedua bangsa tersebut akan menghadapi kehancuran. Namun Hassya bertekad akan melawan apa pun yang menghalangi mereka dan menjadi pelindung bagi Sadira.

Untuk mencegah kehancuran tersebut, Antya, adik Sadira, dan Linc, si kuda terbang putih, berusaha memanggil penolong dari dunia lain--- Laskar dan Sashika, pelajar SMU Surya Ilmu--- dunia yang hutannya tidak seindah di negeri mereka dan dipenuhi bangunan pencakar langit.

Dunia yang akan mendukung cinta Sadira dan Hassya sepenuhnya.



.....oOo.....



Sadira adalah seorang Puteri Matahari. Berbeda dengan puteri kebanyakan, Sadira justru lebih suka berpetualang dan tertarik dengan bela diri. Sedangkan Hassya adalah seirang Pangeran Kegelapan yang seperti penghuni Negeri Kegelapan pada umumnya memiliki perawakan dengan wajah putih pucat.

Aerial adalah sebuah tempat yang memiliki sungai dan hutan yang cantik. Sejak dulu kedua negeri memang saling bermusuhan. Aerial adalah tempat yang tidak berpenghuni dan merupakan tempat yang terlarang. Di sanalah suatu hari, tanpa sengaja mereka bertemu. Dari sinilah dimulai cerita tentang mereka berdua.

Perkenalan mereka dimulai dari rasa saling memusuhi. Sadira yang menganggap klan kegelapan adalah sekumpulan monster dan Hassya yang menganggap klan Sadira adalah musuh besar klannya. Tapi tanpa mereka sadari, dengan seiring waktu muncul rasa ketertarikan di antara mereka berdua.

Walau begitu, dengan adanya ramalan kuno yang melarang adanya pernikahan di antara kedua klan, mereka pun mengalami banyak hambatan untuk bersatu. Dan ternyata, bukan mereka saja yang terjebak dengan kisah percintaan itu. Salah satu teman Sadira juga, Isla jatuh cinta pada seorang pemuda dari klan kegelapan. Mereka berempat akhirnya bersama-sama berusaha untuk menghentikan pertikaian antara kedua negeri mereka. Selain itu mereka juga dibantu oleh adik Sadira, Antya bersama Linc, kuda terbang yang berusaha untuk memanggil penolong dunia lain, Laskar dan Sashika.

Apakah mereka akan berhasil?
Ayo pada baca sendiri ya :)

Lagi-lagi saya tergoda sama sampul buku saat membeli buku ini. Cerita fantasi yang cukup menarik untuk diikuti. Alur ceritanya juga mengalir, tidak monoton. Tokohnya sebenarnya hampir-hampir mirip dengan cerita fantasi kebanyakan, ada seorang pangeran dan seorang puteri yang bertemu dan lalu jatuh cinta. Walau begitu saya tetap suka dengan penokohan mereka dan ceritanya juga manis.

Tetapi pada bagian akhirnya yang agak kurang sreg buat saya, ketika ada 2 tokoh baru yang muncul, yaitu Laskar dan Sashika. Kurang dapet aja jadinya endingnya menurut saya dan agak dipaksakan juga kesannya.

Oia, katanya buku ini ada sekuelnya juga. Sayang saya belum nemu bukunya. Penasaran juga apa lanjutan ceritanya. Apa mungkin juga ntar sekuelnya malah bahas Laskar sana Sashika kali ya?


Mari Membaca :)



Sabtu, 26 Oktober 2013

Ranu by Ifa Avianty & Azzura Dayana




Penulis | Ifa Avianty & Azzura Dayana
Penerbit | PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit | 2013
Halaman | 316
ISBN | 9786020212678


"Ranu. Manajer muda. Fotografer. High-cost traveler. Hidup dalam kenangan masa lalu yang pahit disebabkan beberapa kehilangan. Atas ide sohibnya yang kocak, gokil, dan backpacker abis bernama Dios, ia sepakat mengangkat kehidupan pedalaman di Pegunungan Baduy ke dalam sebuah film semidokumenter budaya.

Ide itu menyeretnya pada perjumpaan dengan sosok Ayuni. Fotografer kebanggaan Dios untuk proyek Baduy. Pendaki gunung yang tangguh namun pemurung dan cenderung ketus. Tapi Ranu justru berhasil menemukan sisi lain pada dirinya. Sebuah kelembutan bak bunga edelweiss dan kedamaian bak danau Ranu Kumbolo.

Clue apakah sebenarnya menghubungkan antara Ranu dan Ayuni? Bagaimana pula dengan Irene, sosok princess yang ada di hati Ranu maupun Ayuni? Benarkah jalan kehidupan mereka akan berubah?"

.....oOo...


Di awal buku saya agak terkecoh karena mengira tokoh utamanya adalah Ranu dan Irene, tetapi ternyata adalah Ranu dan Ayuni. Tetapi Irene dan Dios juga menjadi tokoh yang juga tidak kalah pentingnya. Malah justru lebih tepatnya buku ini kebanyakan hanya menceritakan tentang mereka berempat saja.

Dios yang seorang backpacker memiliki teman bernama Ayuni. Dios yang memang tipe ekstrovert atau bermulut ember sering sekali beradu mulut dengan Ayuni yang juga cenderung ketus. Karena itu, tidak jarang mengolok-ngolok mereka agar menjadi pasangan saja.

Sedangkan Ranu, adalah seorang pengusaha muda yang sedang larut dengan dukanya karena kehilangan dua wanita yang dicintainya, ibu dan wanita yang dicintainya. Suatu hari Ranu tanpa sengaha bertemu dengan Irene dan Tatia, puterinya. Sejak itu mereka menjalin pertemanan. Irene sendiri sebenarnya adalah sepupu dari Ayuni.

Mereka berempat kemudian dipersatukan oleh sebuah proyek film semidokumenter tentang budaya Baduy. Sepertinya penulis suka sekali dengan hal-hal yang serba kebetula, karena dalam buku ini banyak sekali kebetulan yang terjadi. Ranu yang jatuh cinta pada Aida yang ternyata mencintai Fajar, kakak Ayuni. Tetapi ternyata Aida dan Fajar kembali kepada Sang Pemilik terlebih dahulu. Rasa kehilangan yang mereka berdua alami tanpa disadari justru hilang ketika mereka berdua sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. 

Penuturan kata-katanya apik dan mengalir, walau alurnya agak maju mundur ceritanya. Dari buku ini juga mendapat sedikit pengetahuan tentang suku Baduy. Awalnya saya kira, karena Ranu dan Ayuni adalah seorang fotografer, di dalam buku ini kita juga akan disuguhkan banyak foto, tetapi ternyata dugaan saya salah. Memang ada beberapa foto, tetapi itu juga tidak berwarna, sayang sekali. Lalu, walau pada sampul buku ini ada label 'Novel Islami' nya, tetapi pada kenyataannya nilai religius di dalam buku ini tidak terlalu ditampakkan penulis.

Untuk kalian yang sedang bersantai, buku ini cocok untuk kalian. Karena tampilan buku yang kecil, buku ini juga bisa dibaca dengan sekali duduk.

Mari Membaca :)

Jumat, 25 Oktober 2013

Jangan Tulis Kami Teroris by Linda Christanty



Penulis | Linda Christanty
Penerbit | KPG
Tahun Terbit | 2011 
Halaman | 147
ISBN | 9789799103505

"Setelah dari Jawa menuju Atjeh, dalam kumpulan tulisan ini Linda bertolak dari Aceh menuju kawasan yang lebih luas, yaitu Asia Tenggara. Dia mewawancarai berbagai macam kalangan, mulai dari anggota Forum Pembela Islam (FPI) dan Tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), hingga warga dari berbagai kalangan di Malaysia, Patani-Thailand Selatan dan Kamboja. Semua tempat, pengalaman dan reportase penulis membuka kesadaran kita bahwa ketidakadilan dan kesewenag-wenangan bisa terjadi dengan mengatasnamakan apa saja: suku, bangsa, agama, komunisme, nasionalisme bahkan demokrasi. Buah pemikiran Linda yang kritis dan mendalam juga menegaskan, orang-orang yang merasa terancam nyatanya juga menyatukan diri dalam identitas tunggal seperti penindas mereka. Buku ini menyuguhkan suatu jurnalisme yang kritis dan berani dengan narasi memikat-suatu pencapaian yang makin sayup dalam gemuruh media dewasa ini." 


........oOo........

Buku ini berisi tentang kumpulan catatan perjalanan jusnalime mbak Linda Christanty ke beberapa daerah di Indonesia dan beberapa negara.

Jujur selain karena saya penggemarnya mbak Linda, hal yang menarik perhatian saya adalah judul buku ini yang ada embel-embel terorisnya. Saya yang memang memang lahir dan besar di Aceh tentu saja penasaran dengan apa yang tersirat dari buku ini. Ternyata mbak Linda tidak hanya mengulik tentang terorisme di Aceh saja, tapi meluas juga ke negara tetangga, Thailand dan Kamboja.

Lagi-lagi, dengan membaca tulisan mbak Linda kita dibukakan mata dan hati tentang permasalahan sosial di sekitar kita yang terkadang tidak kita lirik sedikit pun.

Mari membaca :)